Rencana Pembelajaran Online Dinilai Berisiko, IKA UPI Angkat Suara


[IKA UPI Soroti Risiko Pembelajaran Daring Akibat Kebijakan Penghematan Energi/smadwiwarna.sch.id]

SuaraGarut.id — Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) mengkritik rencana pemerintah yang akan menerapkan pembelajaran daring sebagai bagian dari upaya penghematan energi di tengah krisis global.

Kebijakan ini sebelumnya disampaikan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, yang menyebutkan bahwa metode pembelajaran akan disesuaikan antara daring dan luring sesuai kebutuhan.

IKA UPI menilai, pengalihan pembelajaran tatap muka menjadi daring berpotensi menurunkan kualitas pendidikan. Metode ini dinilai tidak sepenuhnya efektif dalam mendorong siswa memahami materi serta membangun karakter.

Ketua Umum PP IKA UPI, Amich Alhumami, menegaskan bahwa pengalaman selama pandemi Covid-19 telah menunjukkan dampak negatif pembelajaran daring.

"Terjadi learning loss yang sangat signifikan. Sekolah bukan sekadar tempat belajar dan medium transfer materi pelajaran, tetapi ruang interaksi sosial untuk penanaman karakter, disiplin, dan etika yang mustahil dilakukan melalui layar kaca," ungkap Amich.

IKA UPI juga menyoroti dampak kesehatan mental akibat pembelajaran daring, termasuk kelelahan digital dan beban psikologis pada siswa.

“Bagi siswa, pembelajaran online akan menciptakan digital fatigue—situasi psikologis, kelelahan mental dan fisik akut akibat penggunaan perangkat teknologi digital dalam waktu sangat lama. Kondisi ini mengantarkan pada cognitive overload yang kontraproduktif terhadap upaya peningkatan kualitas hasil belajar,” tegas Amich.

Selain itu, kesenjangan akses teknologi dinilai masih menjadi persoalan besar di berbagai wilayah Indonesia, sehingga kebijakan ini berpotensi memperlebar ketimpangan pendidikan.

IKA UPI menilai, upaya penghematan energi seharusnya tidak mengorbankan sektor pendidikan. Sebagai alternatif, mereka mengusulkan pendekatan pedagogi hijau, seperti mendorong siswa dan tenaga pendidik menggunakan transportasi ramah lingkungan.

“Jika bertujuan hemat BBM, jangan mengganti sekolah fisik dengan pembelajaran daring. Dorong siswa dan pengajar bersepeda atau berjalan kaki bagi yang jarak rumah-sekolah memungkinkan. Ini solusi paling logis dan rasional: hemat energi, menyehatkan fisik, dan membangun karakter mandiri,” tambahnya.***

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka