- Oleh Redaksi
- 22, Mar 2026
SuaraGarut.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di Indonesia dalam kondisi aman. Hal ini seiring dengan kebijakan pemerintah yang telah menghentikan impor solar sejak awal tahun 2026.
“Kami harus meyakinkan kepada rakyat Indonesia bahwa solar kita insyaallah tidak lagi melakukan impor, jadi clear (aman),” ujar Bahlil saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Jawa Tengah yang dipantau secara daring dari Kementerian ESDM, melansir dari Antara.
Penghentian impor solar ini didukung oleh beroperasinya proyek strategis nasional Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan milik PT Pertamina (Persero).
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah meresmikan peningkatan kapasitas kilang tersebut menjadi 360 ribu barel per hari, yang merupakan kapasitas terbesar di Indonesia saat ini.
Seiring dengan beroperasinya kilang tersebut, pemerintah tidak lagi menerbitkan izin impor solar. Kebijakan ini juga berlaku bagi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta yang kini diwajibkan memperoleh pasokan dari Pertamina.
Sementara itu, untuk BBM jenis bensin, Indonesia masih mengandalkan impor sebesar 50 persen, sedangkan sisanya dipenuhi dari produksi dalam negeri. Untuk kebutuhan impor tersebut, pemerintah tengah menjajaki berbagai alternatif negara pemasok minyak mentah.
Beberapa negara yang menjadi opsi sumber impor di antaranya Angola, Brasil, Amerika Serikat, dan Rusia.
“Kemudian, LPG kita juga masih impor kurang lebih sekitar 70 persen dari total kebutuhan Indonesia,” ucap Bahlil.
Meski ketergantungan impor LPG masih cukup tinggi, Bahlil menegaskan kondisi energi nasional tetap stabil dan terkendali. Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak panik dalam menyikapi situasi global.
“Nggak usah ada rasa panic buying, nggak perlu ada. Pakailah dengan secukupnya,” ucap Bahlil.
Di sisi lain, potensi krisis energi global dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan meningkat setelah serangan militer gabungan pada 28 Februari yang kemudian dibalas oleh Iran dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah.
Selain itu, Iran juga dilaporkan menguasai Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi minyak global, terutama bagi negara-negara di kawasan Asia. Kondisi ini turut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia.***
Belum ada komentar.