Beranda Uniga Gandeng PWI dan IJTI Garut Dorong Literasi Pemberitaan Ramah Anak

Uniga Gandeng PWI dan IJTI Garut Dorong Literasi Pemberitaan Ramah Anak

Oleh, Redaksi
4 hari yang lalu - waktu baca 3 menit
Uniga bersama PWI dan IJTI Garut menggelar literasi pemberitaan ramah anak bagi jurnalis dan influencer lokal

SuaraGarut.id – Isu anak kerap menjadi perhatian publik dan media, terutama ketika berkaitan dengan kenakalan maupun tindak pidana. Namun dalam menyampaikan informasi sensitif tersebut, media dituntut tetap menghormati dan melindungi hak-hak anak, baik sebagai korban maupun pelaku.

Di Indonesia, pemberitaan terkait anak telah diatur melalui Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) yang diterbitkan Dewan Pers. Pedoman ini mewajibkan media menjaga kerahasiaan identitas anak, menghindari narasi yang berpotensi melukai psikologis, serta menyajikan pemberitaan yang berperspektif hak anak. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat berujung pada sanksi.

Dalam rangka meningkatkan literasi pemberitaan ramah anak di kalangan jurnalis, konten kreator, dan influencer, tim dosen Fakultas Komunikasi dan Informasi (Fkominfo) Universitas Garut (Uniga) melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Kabupaten Garut. Tim dosen tersebut terdiri dari Muhamad Erfan, Ridwan Mustofa, dan Feri Purnama.

Kegiatan ini berkolaborasi dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Garut dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Garut, serta dihadiri wartawan dan pegiat media lokal. PKM bertema “Peningkatan Literasi dalam Pemberitaan Ramah Anak Bagi Jurnalis dan Influencer Lokal dalam Mendukung Kabupaten Layak Anak di Garut” digelar di Aula Kantor PWI Garut, Jalan Pembangunan, Kecamatan Garut Kota.

Dosen Fkominfo Uniga, Muhamad Erfan, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

"Teman-teman dosen tentu dibebankan untuk selalu melakukan riset, setelah itu tentu tidak hanya dipajang di perpustakaan atau jurnal saja melainkan menyebarkan nilai-nilai yang ditemukan untuk memberi manfaat lebih luas terhadap dunia profesional maupun akademik," katanya.

Ia juga mengapresiasi kolaborasi PWI Garut, IJTI Garut, serta para influencer yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Diskusi diperdalam oleh Ridwan Mustofa, dosen Fkominfo Uniga yang juga berprofesi sebagai jurnalis. Ia menekankan bahwa literasi pemberitaan ramah anak merupakan tanggung jawab bersama dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

"Media massa memegang peran sentral sebagai produsen informasi publik dengan kewajiban menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, memastikan perlindungan identitas dan psikologis anak, serta menyajikan berita yang berimbang, edukatif, dan berperspektif hak anak. Media bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk kesadaran dan nilai di masyarakat," katanya.

Menurutnya, akademisi berperan sebagai landasan intelektual dan moral melalui riset, kajian kritis, serta pengembangan kebijakan dan kurikulum literasi media. Sementara itu, influencer dan pegiat media sosial memiliki kekuatan dalam membangun opini publik, terutama di kalangan generasi muda.

"Secara keseluruhan, literasi pemberitaan ramah anak hanya dapat terwujud apabila terdapat sinergi yang kuat antara media yang beretika, akademisi yang berintegritas, influencer yang bertanggung jawab, dan konten kreator yang kreatif serta sadar perlindungan anak. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam menciptakan ruang informasi yang aman, mendidik, dan berpihak pada kepentingan terbaik anak sebagai generasi masa depan," katanya.

Dosen Fkominfo Uniga lainnya, Feri Purnama, menambahkan bahwa pegiat media perlu memahami aturan penyebaran informasi agar tidak menimbulkan dampak negatif di kemudian hari, khususnya dalam pemberitaan yang melibatkan anak.

Ia menekankan tiga unsur penting dalam menyajikan informasi di media sosial.

"Tiga hal itu yakni logika, etika, dan estetika, saya kira penting untuk diperhatikan, tujuannya untuk menjunjung tinggi kebenaran, kebaikan, dan hal yang memberikan manfaat dari penyebaran informasi tersebut," katanya.

Ketua PWI Kabupaten Garut, Aep Hendi, menilai literasi pemberitaan ramah anak tidak hanya soal kepatuhan teknis terhadap kode etik jurnalistik, tetapi juga menyangkut bagaimana isu anak ditempatkan dalam agenda media dan dampaknya bagi publik.

"Melalui peningkatan literasi pemberitaan ramah anak, diharapkan ekosistem informasi di Kabupaten Garut mampu mendukung terwujudnya Kabupaten Layak Anak, tidak hanya melalui kebijakan formal, tetapi juga melalui praktik pemberitaan dan produksi konten yang sadar, beretika, dan berpihak pada kepentingan terbaik anak," katanya.

Ketua IJTI Korda Garut, Wildan Fadilah, turut mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkuat jurnalisme yang bertanggung jawab.

"Kolaborasi ini menjadi kunci dalam menciptakan ruang informasi yang aman, mendidik, dan berpihak pada kepentingan terbaik anak sebagai generasi masa depan," katanya.

Ia menambahkan bahwa dalam era digital, agenda pemberitaan tidak lagi sepenuhnya berada di tangan media arus utama.

"Tanpa literasi yang memadai, ruang digital berpotensi terus mengedepankan narasi sensasional yang mengabaikan prinsip perlindungan anak," katanya.***

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.