Beranda Badan Geologi Peringatkan Potensi Longsor Susulan di Pasirlangu Bandung Barat

Badan Geologi Peringatkan Potensi Longsor Susulan di Pasirlangu Bandung Barat

Oleh, Redaksi
1 minggu yang lalu - waktu baca 3 menit
Longsor di Cisarua Bandung Barat Jabar/tribratanews.jabar.polri.go.id

SuaraGarut.id - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Ancaman tersebut dinilai masih tinggi, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang panjang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa bencana gerakan tanah berupa longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2025) dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung sebelum dan saat kejadian.

"Faktor pemicu utamanya adalah curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian, yang menyebabkan peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, dan terjadinya kegagalan lereng," ujarnya, dalam keterangannya, yang dikutip di Jakarta, Minggu.

Selain hujan, Lana menyebutkan bahwa kondisi geologi setempat turut berperan besar dalam terjadinya longsor. Wilayah Pasirlangu didominasi batuan gunung api tua yang telah mengalami pelapukan, memiliki kemiringan lereng yang curam, serta dipengaruhi keberadaan rekahan dan sesar geologi.

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), kawasan terdampak masuk dalam kategori Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah. Pada zona ini, potensi gerakan tanah dapat meningkat, khususnya pada lereng yang telah terganggu secara alami maupun akibat aktivitas manusia, terlebih saat hujan deras dengan durasi lama.

Aktivitas pemotongan lereng untuk kebutuhan permukiman dan akses jalan, ditambah sistem drainase permukaan yang belum optimal, dinilai memperbesar risiko longsor dan menurunkan stabilitas lereng di kawasan perbukitan tersebut.

"Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas," jelas Lana.

Tim tanggap darurat diterjunkan

Pasca-kejadian, Badan Geologi telah memberangkatkan Tim Tanggap Darurat (TTD) ke lokasi bencana. Tim melakukan pemeriksaan lapangan untuk mengidentifikasi penyebab gerakan tanah sekaligus menyiapkan rekomendasi teknis penanganan di area terdampak yang diperkirakan mencapai 30 hektare.

"Tim Tanggap Darurat Badan Geologi saat ini sudah berada di lokasi terjadinya tanah longsor. Tim akan melakukan pemeriksaan di lokasi bencana untuk mengetahui penyebab terjadinya bencana," ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hadi Wijaya.

Tim TTD yang berjumlah 10 orang, terdiri dari lima personel teknis dan lima nonteknis, akan menyusun rekomendasi teknis penanganan bencana gerakan tanah. Selain itu, tim juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat terdampak sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana agar kejadian serupa tidak terulang.

Wilayah yang terdampak longsor merupakan daerah perbukitan dengan tingkat kepadatan permukiman serta aktivitas pemanfaatan lahan yang cukup tinggi. Badan Geologi pun meminta warga yang berada di sekitar lokasi untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

"Masyarakat yang tinggal di dekat lereng curam diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat dan setelah hujan deras, mengingat potensi terjadinya gerakan tanah susulan masih tinggi," ujar Lana.

Dalam proses penanganan bencana, Badan Geologi juga menekankan pentingnya keselamatan petugas di lapangan.

"Penanganan longsoran dan pencarian korban hilang agar memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan yang bisa menimpa petugas," sebut Lana.***

Sumber Antara 

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.